Friday, October 19, 2012

13 Tantangan Ekonomi Warga Cirebon di Masa Depan


By on Friday, October 19, 2012


 Tantangan Ekonomi Warga Cirebon di Masa Depan


     Tepat di hari jadi PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) kemarin 18 Oktober 2012 di Cirebon, adalah awal rencana pembangunan ekonomi jangka panjang di kota Cirebon. Disamping fungsinya sebagai pembantu pasokan listrik yang memiliki kekuatan diatas 5000 GW untuk memasok Jawa dan Bali, juga sebagai bahan uji banding dengan PLTA yang masih memiliki kendala sumber tenaga; yakni air. Karena air di Indonesia semakin hari semakin mendapati kekurangan sehubungan dengan manjamurnya pabrik usaha air minum yang dikomersialkan. PLTU di Cirebon yang baru-baru ini diresmikan mendapat tekanan demonstrasi dari kalangan mahasiswa Cirebon, karena diduga dapat mencemarkan udara di Cirebon. Salah satu efeknya adalah cuaca yang semakin panas dan kemarau berkepanjangan dibandingkan tahun sebelumnya. Efek yang sangat terasa oleh warga adalah, tidak bisa tidur di malam hari. Karena pada malam hari di kota Cirebon bersuhu 34 derajat celsius cukup panas. Sungai-sungai di Cirebon kering, begitu juga sawah dan ladang mengering, karena pasokan aliran sungai terhenti diakibatkan mata sumber air dikuasai oleh perusahaan air swasta komersial.
     Penempatan PLTU di Cirebon, cukup strategis karena Cirebon memiliki pelabuhan yang menjamin mobilisasi bahan baku utama yakni batubara. Hal tersebut menjadi tambahan isu akan dijadikannya Cirebon sebagai kota Industri dan Metropolitan ke dua setelah Jakarta. Sehubungan hal tersebut, agen pemerintah sedang membentuk tim untuk memprakarsai Cirebon dan wilayah Kuningan, Indramayu, serta Majalengka untuk dijadikan sebagai Provinsi termuda di Indonesia. Lalu bagaimana apakah warga Cirebon telah siap jika kelak wilayah yang telah ditentukan tersebut akan menjadi Provinsi? Mengingat infrastruktur sedang dibangun dalam beberapa waktu ini.
      Baiklah, mari kita bicarakan sejarah pusat berbelanjaan jika kita ingin mengukur perekonomian di Cirebon dalam skala bisnis. Inilah rekam jejaknya;
  1. Pusat rekreasi taman bermain dan aneka satwa Ade Irma di Cirebon tutup pada tahun 2010an, karena penanganan yang kurang maksimal dan menurunnya minat untuk mengunjungi taman tersebut.
  2. Ramayana Toserba Hero tutup, karena sepinya pengunjung. Disinyalir tersaingi oleh Grage Mall yang lebih trend dan populer dengan jangkauan angkutan umum yang lebih mudah. 
  3. Matinya pasar Balong, yang disebabkan oleh persaingan usaha ritel yang mengambil pangsa pasar di daerah perkotaan. 
  4. Sepinya aktivitas trend pembelanjaan di CSB yang tidak mencapai target. 
  5. Matinya berbagai kios di jalanan dan mulai dijual belikan ke masyarakat, karena disamping tingginya harga, juga karena jumlah konsumen tidak naik. Hal tersebut mengakibatkan tidak adanya keseimbangan antara jumlah pembeli/permintaan dengan produksi/penjual yang bertambah dengan drastis. 
  6. Grage Mall lebih eksis dibandingkan dengan CSB (Cirebon Super Block). Ini disebabkan oleh terlalu tingginya harga yang ditawarkan oleh CSB dibandingkan Grage Mall. Sehingga CSB hanya mampu menjaring kalangan tingkat atas. Sementara penghasilan/UMK di Cirebon tidak seimbang dengan yang ditawarkan CSB. Meski penampilan CSB lebih menarik.
  7. Rencana pembangunan Lotte Mart yang mungkin ini akan mengakibatkan matinya berbagai Mall skala besar di bagian kota Cirebon. Bukan hanya Mall, namun pedagang kecil juga akan tergerus oleh kehadiran Lotte Mart tersebut. Dalam segi AMDAL pun hal tersebut dapat membahayakan daerah sekitar, mengingat daerah kawasan Bima Cirebon adalah daerah resapan air dan merupakan kawasan Pendidikan dan kepemudaan.
  8. Giant di Cirebon dan Ramayana di Plered merupakan Mall yang dalam tahap penjajakan baru ke masyarakat. Sementara Asia, Surya, dan Yogya di Cirebon yang cukup senior belum melakukan pengembangan yang lebih besar lagi. 
  9. Pasar dan toko-toko di Cirebon perlahan mengalami perubahan dari segi ekonominya, seperti buka-tutup usaha. Ini merupakan dinamika ekonomi yang terlihat. Adanya ketidak seimbangan dalam persaingan usaha. Ada kekhawatiran akan adanya monopoli usaha yang dimainkan oleh pengusaha besar untuk menguasai pasar di Cirebon. 
  10. Perbankan di Cirebon juga dalam masalah besar, jika aktivitas pinjam-meminjam dana/bantuan pembangunan tanpa diselingi dengan pemasukan dari nasabahnya. Namun perbankan yang berada di Cirebon merupakan perbankan skala nasional yang memiliki tingkat kesehatan yang tinggi. 
  11. Isu yang mengemuka lain diantaranya pembangunan Hotel berbitang 5 yang berada di Jalan By Pass dan isu akan berdirinya Perguruan Tinggi Negeri ke-2 setelah IAIN yakni Universitas Swadaya Gunung Jati menjadi Perguruan Tinggi Negeri. Ini akan menjadi salah satu pemicu pendatang yang akan menajdi tantangan bagi warga asli Cirebon dalam peran sertanya membangun Cirebon. Hal tersebut akan mendorong usaha rumah kos akan segera menjamur.
  12. Isu pembangunan taman kota di Gedung Negara menambah keyakinan bahwa kota Cirebon dan sekitarnya akan menjadi daerah provinsi termuda di Indonesia. Cirebon yang memiliki banyak sebutan seperti Cirebon kota Udang, Adipura, Wali, Berintan, akan memiliki gelar baru yakni Cirebon ibukota provinsi Cirebon.
  13. Rencana PDAM yang akan menaikkan harga tarif dasar air tidak sejalan dengan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Air yang terlalu bau kaporit, air yang berbau lumpur, air yang jarang mancur (tersalurkan) merupakan laporan sehari-hari warga Cirebon. Ada pula warga yang mempertanyakan melonjaknya harga tagihan air secara mendadak. Ini merupakan contoh kecil dari kurang siapnya pemerintah kota dan kabupaten Cirebon dalam mempersiapkan Cirebon menjadi Provinsi.
Ke-13 hal tersebut adalah 27% data analisis saya yang terungkap, dalam mengkaji daerah kota dan kabupaten Cirebon dalam prespektif ekonomi dan sosial. Lalu bagaimana, apa yang dapat saya tawarkan mengenai solusi jangka panjang untuk Kota dan Kabupaten Cirebon dalam mempersiapkan warganya untuk siap dalam kancah era globalisasi tanpa monopolistik? Berikut;
  • Perusahaan air harus dibatasi dan tidak boleh untuk menguasai sumber mata air yang berada di daerah pegunungan. Karena dapat berpotensi untuk mengurangi pasokan air ke sungai-sungai, mengingat daerah Cirebon dan Indramayu warganya masih banyak yang mengolah sawahnya sebagai mata pecaharian disamping juga banyak yang menjadi nelayan. Karena sungai adalah termasuk dalam media transportasi setelah darat.
  • Berikan kewenangan penuh terhadap BUMN - PDAM dalam mengambil pasokan yang lebih profesional terutama dalam mengolah sumber mata air, bukannya pihak swasta. Sehingga tidak ada warga yang mengeluh lagi mengenai kualitas air yang ditawarkan oleh pihak PDAM. 
  • Tutup izin bagi perusahaan ritell yang telah banyak melanggar aturan hukum dalam tata kelola, karena semakin banyaknya ritell seperti Alfa Mart dan Indo Mart yang mendekati daerah pasar tradisional maka semakin banyaknya kematian usaha mikro dan usaha dagang warga di Cirebon. 
  • Ketidak sesuaian tata kelola pusat perbelanjaan seperti Giant, CSB dan rencana pembangunan Lotte Mart yang tidak sesuai fungsi lingkungan berakibat bencana banjir seperti tempo lalu. Dimana daerah Cipto dan Perjuangan adalah daerah resapan air, dan kemudian dibangunnya berbagai bangunan yang melucuti peranan pepohonan disana yang sebagai penyerap air hujan dan kiriman.
  • Banyaknya lahan persawahan dan ladang di daerah kabupaten Cirebon dan Indramayu adalah sebagai ukuran titik lemahnya pasokan air dari Kuningan semenjak 5 tahun terakhir. Sungai-sungai yang tercemar diantaranya sungai Sukalila dan sungai Tangkil yang berwarna hitam pekat seolah siap untuk mematikan berbagai biota yang terjun ke dalamnya. Perubahan kimia dalam air sungai tersebut terjadi semenjak 15 tahun terakhir. Ini merupakan contoh laporan lingkungan hidup yang terabaikan disamping pengajuan pemerintah yang akan menjadikan Cirebon sebagai Provinsi. 
Salah satu masalah utama dalam tata kelola kota Cirebon adalah pertumbuhan mobilisasi/kendaraan yang semakin pesat tanpa ada pertambahan jalan. Sehingga pada tahun 2015 Cirebon akan menemui kota Jakarta hadir di Cirebon. Artinya adalah, kemacetan tiada akhir akan menjumpai warga Cirebon. Seperti yang kita ketahui, jam-jam sibuk pada pukul 06:30 pagi hingga pukul 08:00 sangat padat dan pukul 16:00 hingga 18:30 sore sangat padat. Hal tersebut dikarenakan jumlah kendaraan yang berlalu lalang cukup padat, dan ruas-ruas jalan yang pendek serta terbatas dan memiliki berbagai penghalang seperti lampu merah, pintu rel kereta api, dan keluar masuknya pintu mall. Pada tahun tersebut juga angkot atau angkutan umum menjadi tidak populer. Karena warga disetiap rumah telah memiliki kendaraan bermotor yang umumnya roda dua. Hal tersebut akan berdampak negatif pada peranan angkutan umum sebagai jasa transportasi umum di masa depan. Mungkin tantangan-tantangan diatas akan dihadapi oleh seluruh warga di Indonesia dalam menapaki masa depan. Saya harap kita cerdas dalam memilih siapa yang akan menjadi calon pemimpin untuk menempatkan dirinya sebagi pemimpin yang bijak untuk persoalan di masa depan. Karena masalah kita semakin kompleks, dan dinamikan yang terjadi di luar rencana dan sangat cepat.
Mari bersama-sama membuka akal sehat untuk menyelamatkan masa depan anak-cucu kita dari sistem yang salah, dan menuju kearifan lokal yang berwawasan teknologi yang diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa. Bersatu untuk Indonesia.

About Santosa Innovation

Faizan is a 22 year old young guy who is blessed with the art of Blogging,He love to Blog day in and day out,He is a Website Designer and a Certified Graphics Designer.

0 comments:

Post a Comment