Tuesday, November 15, 2011

Masjid Pertama dan Terbesar di Dunia

Ini Dia Masjid Pertama Dan Terbesar Di Dunia


Tergetar hati ini melihat salah satu tanda2 kekuasaan-Nya di Kota Suci ini... Masjidil Haram, dengan luas wilayah 356,800 meter persegi dg daya tampung lebih dari 1 juta pada satu waktu, adalah masjid terbesar di dunia.
(silahkan klik pada gambar di atas untuk mendapatkan ukuran besar)
Masjidil Haram terletak di kota Mekah, yg di antara keutamaan2 Mekah ialah karena Allah memilihnya sbg:
  1. Tempat dibangunnya rumah Allah
  2. Kota kelahiran dan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, penutup para rasul
  3. Tempat beribadah para hamba-Nya serta adanya kewajiban atas mereka untuk mengunjunginya, baik dari jauh maupun dekat
  4. Tempat yg tidak boleh seorang pun masuk ke dalamnya kecuali dg kerendahan hati, khusyu’, kepala terbuka dan meninggalkan segala bentuk pakaian dan perhiasan dunia
  5. Tempat yg dijadikan Allah sebagai tanah suci yang aman, yang tidak boleh ada pertumpahan darah
  6. Tempat yg dimaksudkan untuk menghapuskan segala dosa2 masa lalu
  7. Tempat yg Allah telah mensyaria’tkan untuk bertawaf di ka’bah
(Gambar di atas adalah pemandangan kota mekah pada tahun 1850.)
Seperti yg kita juga telah tahu, berbeda dg masjid manapun di seluruh dunia, deret shaf di Masjidil Haram ini berbentuk lingkaran, semuanya menghadap ke Ka’bah yg berada di tengah2. Keunikan ini tentu tidak akan kita temui di masjid manapun.
(Pemandangan daerah sekitar Ka’bah pada 1371 H.)

Suasana ka’bah pada 1910 M.

Suasana penginapan sekitar Masjidil Haram pada 1910 M(Anda bisa klik pada gambar di atas untuk mendapatkan gambar ukuran besar)

Gambar di atas ini adalah masjidil haram saat pemugaran oleh Sultan II Abdulhamit.(Anda bisa klik pada gambar di atas untuk mendapatkan gambar ukuran besar)
Tempo doeloe

Gambar di atas adl sketsa Masjidi Haram di masa depan. Keren bukan.(silahkan klik pada gambar di atas untuk mendapatkan ukuran besar)

KA'BAH
Ka’bah, bangunan yg menyerupai bentuk kubus ini merupakan bangunan pertama di atas bumi yg digunakan untuk menyembah Allah. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Ali Imran ayat 96 yg artinya:
“Sesungguhnya permulaan rumah yg dibuat manusia untuk tempat beribadah itulah rumah yg di Bakkah (Mekah), yg dilimpahi berkah dan petunjuk bagi alam semesta”.
Ka’bah disebut juga Baitullah (Rumah Allah) atau Baitul-’Atiq (Rumah Kemerdekaan). Dibangun berupa tembok bersegi empat yg terbuat dari batu-batu besar berwarna kebiru-biruan yg berasal dari gunung2 di sekitar Mekah.

Dari gambar di atas dan di bawah:
1. Mimbar
2. Gerbang Banu Syaibah
3. Bangunan tua di atas sumur zam-zam
4. Tempat masuk bawah tanah menuju sumur zam-zam

Rumah Allah ini dibangun di atas satu dasar fondasi yg kokok yg terbuat dari marmer tebalnya kira2 25 cm. Sementara itu…
Tinggi seluruh dinding = 15.00 M
Lebar dinding Utara (Rukun Iraqi) = 10.02 M
Lebar dinding Barat (Rukun Syam) = 11.58 M
Lebar dinding Selatan (Rukun Yamani) = 10.13 M
Lebar dinding Timur (Rukun Aswad) = 10.22 M
Keempat dinding ini ditutup oleh semacam kelambu sutra hitam yg disebut Kiswah dan tergantung dari atap sampai ke kaki. Sejak zaman nabi Ismail, Ka’bah sudah diberi penutup semacam ini.
(Ka’bah tanpa kiswah)
Kiswah ini diganti setiap tahun sekali pada waktu upacara haji. Pada saat pergantian, Kiswah dipasang lapisan dan disambung dg kain putih untuk menjadi tanda bahwa Ka’bah dalam keadaan Ihram. Pada tanggal 10 Zulhijah, ketika Mekah kosong karena jama’ah haji masih berada di Mina, Kiswah dan penutup makam Ibrahim diganti dg yg baru.
Kiswah dihiasi tulisan2 ayat suci Al Qur’an yg disulam secara khusus dg benang emas. Salah satu kalimat yg tertera pada sulaman kiswah itu adalah kalimat syahadat: Allah Jalla Jalalah, la ilaha illallah, Muhammad Rasulullah (Allah Maha Agung, tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan/pesuruh Allah).
(Ka’bah pada saat pergantian kiswah.)
Terdiri dari 47 potong kain, lebar seluruh kiswah adalah 658m2. Masing2 panjangnya 14 meter dan lebar 95cm. Kiswah dibuat dari bahan sutera asli warna hitam. Ongkos pembuatan kiswah ini lumayan mahal, yakni 17 juta saudi Riyal (saat ini 1 riyal = Rp 2.500. Maka 17 juta riyal = 42.5 milyar rupiah). Dana sebesar ini digunakan untuk membeli 670 kg bahan sutera serta 120 kg emas dan perak untuk penghias kiswah. Kiswah ini dikerjakan oleh setidaknya 240 orang.

(Pintu Ka’bah)
Bagian tembok atau dinding yg terdapat di antara Hajar Aswad dg pintu Ka’bah disebut sebagai Multazam. Tempat ini digunakan oleh muslimin untuk bermunajat kepada Allah, khususnya setelah melakukan thawaf. Ini adalah tempat yg dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sbg tempat yg paling mustajab untuk berdoa.
(Pemandangan Ka’bah pada saat pemasangan marmer dingin)
Sepanjang sejarah, Masjidil Haram selalu terbuka siang dan malam untuk orang2 yg ingin melakukan thawaf, i’tikaf, atau orang2 yg ingin sholat. Lantai tempat thawaf saat ini telah terbuat dari marmer dingin yg dapat menahan panasnya sengatan matahari, sehingga memungkinkan orang2 untuk thawaf tanpa menggunakan alas kaki. Berdasarkan beberapa pengalaman, saat siang hari, karpet sholat yg terdapat di pelataran thawaf bahkan lebih panas ketimbang marmernya.
Denah daerah sekitar Ka’bah

Maqam Ibrahim

Kata maqam memang memiliki beberapa arti. Nah, yg dimaksud di sini adl tempat pijakan orang berdiri. Jadi Maqam Ibrahim adl adl batu yg digunakan oleh Nabi Ibrahim berpijak pada waktu beliau membangun Ka’bah. Maqam Ibrahim adl batu “bekas telapak kaki” yg merupakan benda ajaib yg dikaruniakan Allah sebagai mukjizat kepada Nabi Ibrahim as di mana batu ini dapat naik ke atas dan turun sesuai kemauan Nabi Ibrahim as ketika beliau membangun tembok Ka’bah.

Pada batu Maqam Ibrahim ini terdapat tanda bekas telapak Nabi Ibrahim pada:
- kedalaman 9 sampai 10 cm
- panjang kaki 27 cm
- lebar 14 cm
Di sini tidak nampak bekas jari kaki karena Maqam ini dulunya terbuka, sehingga hilang akibat terlalu sering disentuh orang.
Ibu Abbas ra menuturkan bahwa tidak ada sesuatu pun di bumi ini yg berasal dari surga kecuali rukun (Hajar Aswad) dan maqam. Sepeti Hajar Aswad, Maqam Ibrahim ini diturunkan oleh Allah dari surga lewat malaikat Jibril dan Alalh akan selalu menjaganya dan kelak mendekati hari kiamat, kedua batu ini akan ditarik kembali ke surga.

Untuk melindungi Maqam Ibrahim ini dibangunkan cungkup kristal dalam sebuah bangunan berkerangka besi seperti gambar di atas. Gambar di sebelah kiri adl penutup yg lama, dan di sebelah kanan adl penutup yg baru.

Petugas yg terdapat di Maqam Ibrahim ini bertugas untuk memastikan jamaah tidak berdiri terlalu lama di sini agar tidak menghambat jalannya jamaah yg masih bertawaf. Termasuk jg memastikan agar tidak ada aktivitas berlebihan yg dilakukan di sini (seperti menciumi cungkup kristal atau semacamnya).

Hajar Aswad

Hajar Aswad adalah batu yg tertanam di pojok selatan Ka’bah pada ketinggian kurang lebih 1.1 m dari atas permukaan tanah, dg panjang 25 cm, dan lebar sekitar 17 cm. Awalnya merupakan satu bongkah batu saja, namun sekarang telah berkeping-keping menjadi delapan gugusan batu kecil karena pernah pecah pada 319 H gara2 pernah dicabut oleh sekte Syi’ah Ismailiyyah al-Batiniyyah.
Gugusan terbesar berukuran satu buah kurma, dan tertanam di batu besar lain yg dikelilingi oleh ikatan perak. Inilah batu yg kita dianjurkan untuk mencium dan menyalaminya, bukan batu di sekitarnya, dan bukan pula yg diliputi perak.
Mengenai warna Hajar Aswad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa2 anak cucu Adam -lah yg menjadikannya hitam.
Keutamaan Hajar Aswad adl karena ia berasal dari batu-batu mulia (yaqut) dari surga yg diberikan kepada Ibrahim as agar diletakkan di salah satu sudut Ka’bah. Lalu Rasulullah mengambil dan meletakkannya di tempat semula (pada saat renovasi pada masa Quraisy) dg tangannya sendiri. Lebih2 ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menciumnya sebagaimana yg dilakukan oleh nabi2 sebelumnya, sehingga Hajar Aswad menjadi tempat bertemunya bibir para nabi, orang2 shalih, para haji dan mu’tamirin sepanjang sejarah. Di samping itu, dia menjadi tempat permulaan dan berakhirnya thawaf, sekaligus tempat mustajab (terkabulnya do’a).
Yg jelas, mencium Hajar Aswad adl sunnah. Sehingga dilarang melakukan hal yg haram seperti mendorong, saling menyakiti atau semacamnya dalam rangka untuk bisa menciumnya. Dilarang mengerjakan suatu hal yg sunnah dg meninggalkan kewajiban. Oleh karena itu, jika tidak memungkinkan, cukuplah bertakbir dan melambaikan tangan ke arahnya.
Sumber : http://f4thin.blogspot.com/2010/08/kita-yg-muslim-tentunya-sudah-tahu.html
Reactions:

0 comments:

Post a Comment